Jumlah Penganut Agama Katolik Di Dunia

Jumlah Penganut Agama Katolik Di Dunia – Gereja Katolik di Indonesia merupakan bagian dari Gereja Katolik Roma sedunia yang dipimpin oleh Paus sebagai kepala Gereja Katolik. “Katolik” sendiri merupakan salah satu dari enam agama yang diakui di Indonesia, selain Islam, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu. Menurut data resmi Kementerian Agama pada tahun 2022, umat Katolik berjumlah sekitar 3,12% dari penduduk Indonesia, yaitu sekitar 8,3 juta jiwa.

Penyebaran agama Katolik di Indonesia dimulai dengan kedatangan bangsa Portugis untuk mencari kepulauan rempah-rempah pada abad ke-16. Saat ini, Gereja Katolik di Indonesia terbagi menjadi 10 keuskupan besar, 27 keuskupan sufragan, dan satu keuskupan militer. adalah uskup anggota Persatuan Waligereja Katolik Indonesia (KWI) yang saat ini dipimpin oleh Uskup Bandung. Mgr. Antonius Subianto Benyamin, O.S.C.

Jumlah Penganut Agama Katolik Di Dunia

Banyak ordo/jemaat Katolik yang aktif memberikan karya Katolik di Indonesia, antara lain Jesuit, Missionaries of the Sacred Heart (MSC), dan Serikat Sabda Tuhan.

Keluarga Katolik: Persekutuan Ilahi Sekaligus Manusiawi

Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, namun memiliki banyak wilayah yang beragama Katolik. Terdapat 2 provinsi yang mayoritas penduduknya beragama Katolik yaitu Nusa Tenggara Timur dan Papua Selatan yaitu 55% dan 50% penduduknya.

Selain itu, umat Katolik juga banyak terdapat di Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Jawa Tengah.

Pada abad ke-14, Mattiussi, seorang biarawan Fransiskan asal Italia, memimpin delegasi Katolik pertama ke Indonesia. Dalam bukunya “Perjalanan Friar Odoric of Pordenone”, ia mengunjungi banyak tempat di Indonesia saat ini: Sumatra, Jawa, dan Banjarmasin di Kalimantan, antara tahun 1318 dan 1330.

Paus mengirimnya ke Asia. Pada tahun 1318, ia meninggalkan Padua, menyeberangi Laut Mediterania menuju Persia, lalu ke Kalkuta, Madras, dan Sri Lanka.

Kementerian Agama Ri Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik

Ia kemudian pergi ke Kepulauan Nikobar dan Sumatera, sebelum mengunjungi Jawa dan Banjarmasin. Ia kembali ke Italia melalui Vietnam, Tiongkok, dan Jalan Dandy menuju Eropa pada tahun 1330. Kerajaan Jawa yang disebutkan dalam uraiannya adalah kerajaan Majapahit yang beragama Hindu-Buddha. Misi ini adalah pionir, memberikan informasi kepada gereja tentang Asia. Saat itu, Gereja Katolik belum berdiri di daerah ini, yang sebagian besar penduduknya beragama Hindu dan Budha.

Pada abad ke-16, Portugis bergerak ke arah timur menuju Asia dan akhirnya merebut Malaka pada tahun 1511. Mereka datang untuk mencari rempah-rempah namun tak lama kemudian menjadi misionaris Katolik, khususnya St. François Xavier yang bekerja di Ambon, Ternate dan Morotai (Halmahera) pada tahun 1546. .- 1547.

Seorang misionaris Dominikan juga mempertobatkan banyak orang di Solor. Ketika Portugis diusir dari Ternate pada tahun 1574, banyak umat Katolik di Maluku bagian utara yang meninggal atau masuk Islam. Ambon diserang oleh Perusahaan Belanda Timur pada tahun 1605. Setelah itu, umat Katolik terpaksa masuk Protestan. Hal serupa juga terjadi di Manado dan Pulau Sangihe-Talaud. Solor pun jatuh ke tangan Belanda pada tahun 1613, dan kiprah para misionaris Katolik di Flores dan Timor semakin berkurang, meski masih berada di bawah kekuasaan Portugis.

Kemudian pada tahun 1808 di bawah H.W. Daendels, sebagai gubernur jenderal, diberikan hak beribadah di Belanda Timur kepada umat Katolik, meskipun pekerjaan ini terutama diperuntukkan bagi umat Katolik karena Daendels memerintah di bawah Napoleon di Perancis. Kebebasan ini didorong oleh Thomas Raffles.

Paus (gereja Katolik)

Sejak tahun 1835, Gereja Katolik telah dikaitkan dengan pemerintah kolonial: para pendeta menerima gaji dari pemerintah kolonial, yang juga berhak menolak pengangkatan gereja. Pada tahun 1846, perselisihan politik menyebabkan pemerintah Belanda mengusir semua pendeta Katolik dari koloni tersebut. Pada tahun 1848 hanya ada gereja Katolik di empat pusat di wilayah tersebut.

Setelah Indonesia merdeka, Gereja terus berkembang meski terjadi pengusiran oleh Belanda dan orang Eropa lainnya. Agama Katolik dan agama lain mengalami kemajuan besar setelah tergulingnya Sukarno pada tahun 1965.

Pada awal abad ke-16, semangat penjelajahan laut dan pencarian rempah-rempah yang dilakukan Portugis Katolik membawa mereka ke Malaka. Hubungan Katolik dengan pulau-pulau tersebut tersebar mulai dari kubu Portugis di Malaka hingga ke pulau-pulau lainnya melalui pelabuhan-pelabuhan utama yang dikunjungi kapal-kapal Portugis, misalnya: Banda (1511), Ternate (1513), Sunda Kelapa (1522), Panarukan (1522). ). 1528). Di Indonesia, orang pertama yang memeluk agama Katolik adalah seorang lelaki asal Maluku, Kolano (desa) Mamuya (di Halmahera, Maluku Utara) yang dibaptis oleh seorang saudagar Portugis bernama Gonzalo Veloso, bersama sebagian besar penduduk kotanya pada tahun 1534 yang berdakwah. Injil. . Peristiwa ini menandai dimulainya peringatan 450 tahun Gereja Katolik di Indonesia, pada tahun 1984. Saat itu, para pelaut Portugis menemukan pulau rempah-rempah, dan bersama para pedagang dan tentara, para pendeta Katolik juga datang untuk menyebarkan Injil. P. Simon Faz OFM membaptis lebih dari 5000 orang pada tahun 1534 di Halmahera. Salah satu misionaris besar yang berkunjung ke Indonesia adalah St. Francis Xavier, salah satu pendiri Serikat Yesus (SJ) yang memperkuat iman Katolik antara tahun 1546 dan 1547 di pulau Ambon, Saparua dan Ternate. Dia juga membaptis penduduk setempat. Kehadiran ini rupanya membuat masyarakat semakin tertarik untuk pergi ke gereja. Belajar dan meningkatkan iman kepada Kristus di tengah kebingungan perkembangan dunia.

Kedatangan dan kekuatan militer Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Indonesia pada tahun 1619 – 1799 menguasai perdagangan rempah-rempah dari Portugis dan hampir mendirikan kekuasaan politik di Indonesia. Satu-satunya tempat yang masih berada di luar pengaruh VOC adalah Flores dan Timor.

Gereja Katolik Vietnam Mendapat Tambahan 34 Imam Baru

Para pemimpin VOC beragama Protestan sehingga mereka mengusir para pendeta Katolik Portugis dan menggantinya dengan pendeta Protestan dari Belanda. Banyak terjadi protes umat Katolik saat itu, seperti yang terjadi pada gereja Katolik di Amboina.

Para pendeta Katolik diancam hukuman mati jika kedapatan bekerja di wilayah VOC. Pada tahun 1624, Pastor Egius d’Abreu SJ dibunuh di Istana Batavia oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen, karena mengajar agama dan merayakan Misa Kudus di penjara.

Pastor A. de Rhodes, seorang Yesuit Perancis, pencipta surat kabar Vietnam, dihukum sebagai saksi mata pembakaran salibnya dan benda-benda keagamaan Katolik lainnya di bawah salib, dimana dua pencuri digantung, dan kemudian diusir. de Rhodes. (1646).

Yoanes Kaspas Kratx, warga negara Austria, terpaksa meninggalkan Batavia karena usahanya mendapatkan bantuan dari pejabat VOC, atas bantuan yang ia berikan kepada beberapa pendeta Katolik yang tinggal di pelabuhan Batavia. Ia kembali ke Makau, bergabung dengan Serikat Yesus dan menjadi martir di Vietnam pada tahun 1737.

Uskup Inggris Desak Umat Katolik Bekerja Lebih Keras Dalam Penginjilan

Pada akhir abad ke-18, Eropa Barat terjerumus ke dalam perang dahsyat antara Perancis dan Inggris Raya serta sekutunya. Simpati masyarakat Belanda terpecah, ada yang mendukung Perancis dan ada pula yang mendukung Inggris Raya, hingga Belanda kehilangan kekuasaannya. Pada tahun 1806, Napoleon Bonaparte mengangkat adiknya, Lodewijk atau Louis Napoleon, seorang Katolik, sebagai Raja Belanda. Pada tahun 1799 VOC bangkrut dan dinyatakan bubar. Negara Belanda menjamin hutang dan hak VOC.

Perubahan politik di Belanda membawa dampak positif, khususnya perolehan tahta Raja Louis yang beragama Katolik oleh keluarga Napoleon Bonaparte. Semangat Revolusi Perancis “liberte, egalite, fraternite” (kebebasan, kesetaraan dan persaudaraan) merasuki pemerintah Belanda. Pemerintah mulai menerima kebebasan beragama. Dibawa ke nusantara yang kemudian disebut Belanda Timur. Pada tanggal 8 Mei 1807, Paus Pius VII, pimpinan Gereja Katolik Roma, mendapat persetujuan Raja Louis Napoleon untuk menghidupkan kembali karya misionaris di Belanda Timur dan mendirikan Institut Apostolik di Hindia Timur di Batavia pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels. (1808-1811) (lihat: Sejarah Katedral Jakarta)

Pada tanggal 4 April 1808, dua orang pendeta asal Belanda tiba di Jakarta, yaitu Pendeta Jacobus Nelissen, Pr dan Pendeta Lambertus Prisen, Pr. Pastor J. Nelissen diangkat sebagai Presiden Apostolik pertama, Pr.

Setelah Pemerintahan Umum Daendels (1808-1811), meskipun kebebasan beragama diterapkan, namun agama Katolik pada saat itu agak sulit. Hal ini terjadi karena adanya pergantian kekuasaan di Belanda pasca kekalahan Napoleon pada tahun 1815 yang mengangkat Willem sebagai raja pertama Belanda. Selain itu, pekerjaan Belanda di Timur Jauh mengurangi angkatan kerja. Saat itu, hanya ada 5 pendeta yang mengurus 9.000 orang yang saling memahami. Karena kerja keras, Wilayah Apostolik Batavia diangkat menjadi Vikariat Apostolik pada tanggal 20 September 1842. Keadaan berangsur membaik setelah perundingan yang cermat dengan pemerintah pada tahun 1847. Pada tahun 1889 terdapat 50 imam di Indonesia sejak ia bekerja di Belanda Timur. . Hindia. Dipindahkan ke Jesus Society (SY). Di wilayah Yogyakarta, kebaktian Katolik dilarang hingga tahun 1891.

Teologi Kristen Indonesia

Pastor F. van Lith, SJ, memulai karya Katolik di daerah ini, tiba di Muntilan pada tahun 1896. Pada mulanya usahanya tidak membuahkan hasil yang memuaskan, namun pada tahun 1904 tiba-tiba kemudian 4 orang kepala desa dari daerah Kalibawang datang ke rumah Uba. mereka minta diberi pelajaran agama. Oleh karena itu, pada tanggal 15 Desember 1904, rombongan orang Jawa pertama yang berjumlah 178 orang dibaptis di sumber mata air Semagung di antara dua pohon Sono.Tempat bersejarah ini merupakan tempat ziarah Sendangsono.

Pastor van Lith juga mendirikan sekolah guru di Muntilan, yaitu Normaalschool pada tahun 1900 dan Kweekschool (Sekolah Latihan Guru) pada tahun 1904. Pada tahun 1918 sekolah Katolik bertemu dalam satu gedung, yaitu Yayasan Kanius. Imam dan uskup pertama di Indonesia adalah murid Muntilan.

Pada awal abad ke-20, Gereja Katolik berkembang pesat. Babak baru dimulai dengan pembagian kerja antar komando misi. Setiap ordo membawa staf misionarisnya sendiri. Paus Leo

Jumlah pemeluk agama katolik di dunia, jumlah penganut agama di indonesia, jumlah agama terbesar di dunia, agama katolik terbesar di dunia, jumlah penganut agama di dunia, jumlah pemeluk agama di dunia, agama dengan penganut terbanyak di dunia, jumlah agama di dunia, penganut agama terbanyak di dunia, jumlah umat katolik di dunia, penganut agama terbesar di dunia, jumlah penganut agama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *